Selasa, 21 Mei 2019

Kesenian Kacapi Suling

KACAPI SULING


SEJARAH KACAPI SULING
            Dari  buku yang saya baca, kesenian Kacapi Suling adalah kesenian kalangenan yang berasal dari perkembangan kesenian Tembang Sunda Cianjuran. Seperti telah digambarkan, bahwa jauh sebelum terwujudnya lagu lagu Panambih Cianjuran dalam pagelaran Cianjuran ditampilkan instrumentalia Kacapi Suling dikala istirahatnya juru Mamaos yang kemudian di sebut lagu ekstra. Lagu-lagu ekstra tersebut diambil dari lagu-lagu tradisi yang lazim dimainkan dalam gamelan pelog/atau gamelan Degung yang ber sekar tandak.
            Lagu-lagu ekstra yang pada mula nya instrumentalia tersebut kemudian diberi lirik lagu untuk dinyanyikan, maka terwujudlah lagu-lagu Panambih Cianjuran. Lagu-lagu Panambih Cianjuran itulah yang kemudian menjadi lagu-lagu dalam rekaman Kacapi-Suling secara instrumentalia. Selain lagu-lagu Panambih dalam Cianjuran lagu-lagu Degung klasik pun banyak yang dijadikan lagu dalam instrumentalia Kacapi-Suling.
            Sejarah mencatat kesenian ini sudah sangat dikenal sejak awal abad 19. Saat Bupati Cianjur yakni RAA Kusumaningrat (memimpin 1834-1864) sering membuat Mamaos (seni tembang Sunda/Cianjuran), dan instrumen Kacapi Suling kerap digunakan sebagai pengiringnya.
PENAMAAN KESENIAN KACAPI SULING
            Kesenian kacapi suling dahulunya di modifikasi dari kesenian Tembang Sunda Cianjuran yang di pecah hanya pemain kecapi dan suling nya saja. Dan simple saja dinamakan sesuai pemain dan alatnya Kacapi Suling.
BENTUK PERTUNJUKAN
            Sesuai dengan namanya, kesenian ini hanya berbentuk instrumentalia duet alat musik sunda (waditra) Kacapi dan Suling. Kesenian kacapi suling sudah tak lazim lagi di kalangan masyarakat, kesenian mandiri yang hanya ber anggotakan 2 orang ini adalah suatu jenis seni pertunjukan dalam kenyataannya langka sekali dotemukan. Namun seiring berjalan nya waktu kesenian ini tak hanya dimainkan oleh 2 orang, bisa di dukung oleh Kecapi Rincik, Biola dan lainnya.
            Penyajian instrumentalia, Kacapi Suling dalam pagelaran baru dapat ditemukan dalam pagelaran Sendratari, Gending Karesmen, Tembang Sunda Cianjuran, dan Degung. Dalam pagelaran-pagelaran tersebut tampilnya duet Kacapi Suling secara instrumentalia mempunyai fungsi lain.
            Dalam sendratari Kacapi Suling berfungsi sebagai musik pengiring tarian. Dalam Gending Karesmen Kacapi Suling berfungsi sebagai musik ilustrasi gambaran suasana. Dalam Cianjuran berfungsi hanya untuk mengisi waktu atau pembukaan dan penutupan acara pagelaran Cianjuran.
            Sedangkan dalam acara Degung, terutama dalam acara pesta hajatan keluarga, hanya sebagai selingan agar tidak bosan mendengarkan musik degung; itu pun jika kebetulan gamelan Degung yang digunakannya ditambah dengan kacapi siter.
            Yang menjadi perbedaan kesenian Kacapi-Suling dan Tembang Sunda Cianjuran yaitu hanya dari bentuk penyajian nya saja. Di Kacapi-suling itu tidak menggunakan sekar/vocal. Begitu pun sebaliknya di Tembang Sunda Cianjuran itu memakai vocal untuk mengirini keseniannya.
KEBERADAAN KESENIAN KACAPI SULING.
            Setelah kita tau sejarah kesenian ini. Kita tau bahwa kesenian Kacapi Suling ini awalnya mula berasal dari daerah Cianjur. Namun seiring berjalannya waktu dan perkembangan zaman, kesenian Kacapi-Suling ini tak hanya ada di Cianjur. Sudah banyak yang mempopulerkannya di daerah daerah jawa barat. Maka dari dari itu kesenian ini sudah tak lazim di kalangan masyarakat jawa barat, dan sunda. Dan juga di Indonesia.


Penulis           : Ahmad Putra Winengku
Nim                : 18123095
Sumber materi : DRS. ENIP SUKANDA. 1996.  KACAPI SUNDA. Direktoriat Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Bandung.
Sumber dokumentasi :
—manuskripkesunyian.wordpress.com

—commons.m.wikimedia.org

Senin, 20 Mei 2019

Kesenian Tarawangsa

Kesenian tarawangsa

  • Sejarah tarawangsa
Di daerah sunda terdapat alat musik gesek yang keberadaanya telah lama sekali, yaitu tarawangsa. Keberadaan tarawangsa lebih tua dari pada rebab, alat gesek lain. Naskah kuna Sewaka Darma dari awal abad ke-18 (atau sebelum abad ke 15M) telah menyebut nama tarawangsa sebagai alat nama alat musik. Rebab yang muncul di tanah jawa setelah zaman islam, atau sekitar abad ke-15 dan 16, adalah adaptasi dari alat msuik gesek bangsa Arab yang dibawa oleh kaum penyebar islam dari Arab dan India.
  • Pengertian tarawangsa
Tarawangsa merupakan salah satu jenis kesenian rakyat yang ada di Jawa Barat. Istilah “tarawangsa” memiliki dua pengertian : sebagai alat musik gesek yang memiliki dua dawai kawat baja atau besi; merupakan nama dari salah satu jenis musik tradisional sunda. Sebagai alat musik gesek, tarawangsa dimainkan dengan cara di gesek. Akan tetapi yang di gesek hanya satu dawai, yakni dawai yang paling dekat dengan pemain; sedangkan dawai yang lainnya dimainkan dengan cara dipetik dengan jari telunjuk tangan kiri. Sebagai nama bagi salah satu jenis musik tradisional Sunda, tarawangsa merupkan sebuah ensambel kecil yang terdiri dari sebuah tarawangsa dan sebuah alat petik tujuh dawai menyerupai kacapi, yang disebut jentreng.
Kesenian tarawangsa hanya ditemukan di beberapa daerah tertentu di Jawa Barat, yaitu Rancakalong (Sumedang), Cibalong Cipatujah (Tasikmalaya Selatan), Banjaran (Bandung), dan Kanekes (Banten Selatan).
  • Bentuk pertunjukan
Pemain tarawangsa hanya terdiri dari dua orang: satu orang pemain tarawangsa dan satu orang pemain jentreng. Semua pemain tarawawngsa terdiri dari laki-laki, dengan usia rata-rata 50-60 tahunan. Mereka semua adalah petani.
Dalam ensambel, tarawangsa berfungsi sebagai pembawa melodi (memainkan lagu), sedangkan jentreng berfungsi sebagai pengiring lagu. Biasanya tarawangsa disajikan berkaitan dengan upacara padi, misalnya ngalaksa, yang berfungsi sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas hasil panen yang melimpah. Dalam pertunjukanya, tarawangsa biasanya melibatkan para penari yang terdiri dari laki-laki dan perempuan. Mereka menari secara teratur, mula-mula Saehu/Saman (laki-laki), lalu disusul para penari perempuan. Mereka bertugas ngalungsurkeun (menurunkan) Dewi Sri dan para leluhur. Kemuian hadirin, yang ada di sekitar pertunjukan, juga ikut menari. Tarian tarawangsa tidak terkait oleh aturan-aturan pokok, kecuali gerakan yang dilakukan oleh Saehu dan penari perempuan yang merupakan simbol penghormatan kepada Dewi Padi. Menari dalam kesenian tarawangsa bukan hanya gerak fisik semata-mata, melainkan sangat berkaitan dengan hal-hal metafisik sesuai dengan kepercayaan si penari. Oleh karena itu tidak heran apabila penari sering mengalami trance (tidak sadarkan diri).
Lagu-lagu yang biasa di bawakan dalam tarawangsa yaitu, ada lagu pokok antara lain, Saur Mataraman, Iring-Iringan (Tonggeret), Jemplang, Limbangan, Bangun, Lalayangan, Karatonan, Degung, Sirnagalih, Buncis, Pangairan, Dengo, Angin-Angin, Reundeu, Pangelaran, Ayun Ambing, Reundeuh Reudang, Kembang Gadung, Onde, Legon, (Koromongan), dan Panglima.

Nama : Indra adithia pratama
Nim : 18123110
Sumber : Kurnia, Ganjar,dkk:Deskripsi Kesenian Jawa Barat.Dinas Kebudayaan & Pariwisata Jawa Barat.Bandung.2003.

Minggu, 19 Mei 2019

Kesenian Topeng Banjet



TOPENG BANJET



Topeng Banjet  yang berdiri kurang lebih pada tahun 1900 di daerah karawang  biasa disebut Topeng  saja, ditambah dengan nama pemimpinnya atau ronggengnya  yang terkenal, seperti  Topeng  Asmu artinya topeng yang dipimpin oleh Bapak Asmu,  dan Topeng Nyi Maya artinya topeng yang memiliki ronggeng bernama Nyimaya dan lain-lain.Adapun mengenai Topeng Banjet yaitu topeng yang diikuti dengan kata banjet menurut sepengetahuan tokoh - tokoh kesenian Topeng  Banjet.
Pada mulanya muncul di daerah Cilamaya, Pamanukan dan di daerah pesisir timur lainnya.  Penambahan kata Banjet pada kesenian karawang ini untuk membedakan dengan jenis – jenis  topeng – topeng lainnya yang sama sering ngamen di daerah jawa barat atau  khusunya priangan  pada musim baru cina. Topeng banjet merupakan kesenian khas karawang pada masa kejayaan dari tahun 1912 – 1920 yang sangat digemari seperti masa jayanya, topeng banjet daya asmara ali saban (agus saban) dan grup topeng sinar pusaka warna pendul (abah jaya) karena mempertahankan tradisinya. Sampai saat ini topeng banjet tetap berkembang walaupun tidak dipungkiri bahwa ada juga beberapa grup yang memadukan warna dan gaya kreasi sendiri dalam bentuk penyajian.
Adanya perubahan pola pikir dalam perkembangan masyarakat Karawang menuju kota industri dan berkembangnya kesenian baru, maka secaran tidak langsung berdampak pada penurunan daya apresiasi dari masyarakat penggemarnya pada saat ini.
Istilah topeng banjet menurut Agus Saban,yang mengutip dari keterangan Ali Saban, bahwa istilah banjet merupakan penyempurnaan dari bancet, dimana saat topeng Ali dan ma ijem (1950) pentas di Majalaya Bandung, masyarakat penggemarnya memanggil yang artinya menurut mereka, bahwa dalam musik pembukaan (tatalu) yang berpadu dengn vokal (sengak a,eu,u,eu) didengar dari kejauhan seperti bancet besahutan. Maka masyarakat memberikan istilah topeng bancet Ali olol, yang disempurnakan Ali Sabanmenjadi topeng banjet Ali Saban, yang sekarang grup Daya Asmara.


Rias dan Busana dalam penyajian tarian Topeng Banjet, dan kostum pangrawit sangat sederhana sekali masih tetap menggunakan rias dan busana tradisi yang secara turun temurun diwariskan. Namun banyak perubahan pada bagian asesoris, dimana rias dan busana ditata rapih dengan baik, apabila ada pertunjukan undangan dari tingkat provinsi dan tingkat Nasional, maka group menyewa kostum sesuai kebutuhan pesanan, bahkan rias dan penarinya berubah dikondisikan.
Seni tradisi mewakili salah satu identitas diri dari suatu daerah, yang dikenal dengan ciri dan gaya dari setiap kearifan lokal budaya daerahnya.Kesenian topeng banjet memiliki kekhasan tersendiri berbeda dengan kesenian lainnya yang berkembang di Karawang, pada saat ini keberadaan 4 group yaitu group Topeng Sinar Pusaka Warna Pendul Tempuran (abah jaya), Daya Amara (agus saban), Baskom, Grup Aa Gober generasi Ma Ijem, dan banyak group topeng lainnya.
Kesenian Topeng Banjet ini terdiri dari unsur penataan gending, tarian, dan cerita (lakon) yang  berfungsi untuk acara syukuran hasil panen, ruwatan, hiburan dalam acara khitanan, pernikahan, dan acara pemerintahan. Hal lain yang tidak kalah pentingnya adalah kesenian Topeng Banjet ini merupakan bahan pengkayaan pendekumentasian seni budaya tradisi Jawa Barat.
Memang pada masa sekarang dalam pementasan kesenian Topeng  Banjet  tidak ada pemain yang memakai Topeng  namun pada masa silam yang disebut Topeng  Banjet  itu dalam sebagian pementasanya ada yang menggunakan Topeng, yaitu pada babak Ngajantuk  dan babak Ngedok. Pemakaian Topeng  ini hanya sampai tahun 1949, sebab semenjak itu dilarang oleh penguasa setempat pada masa itu (Batalyon X). Dengan dihapusnya pemakaian Topeng  itu maka hapuslah babak  Ngajantuk  itu sampai sekarang. Walaupun demikian pemakaian kata Topeng tetap dipakai untuk penamaan kesenian Topeng  Banjet.


Topeng  Banjet merupakan salah satu  kesenian teater tradisional yang serumpun dengan Topeng Betawi, Topeng tambun, Topeng Bekasi, dan Topeng cisalak, pertunjukan Topeng Banjet terbagi dalam beberapa bagian babak, yaitu pertama aktraksi musik, musik dan lagu, ronggeng menari bobodoran dan cerita. Cirita-cerita dalam kesenian ini  yaitu cerita roman, cerita sejarah, cerita legenda, penampilan cerita dalam pertunjukan ini khususnya dalam cerita selalu disertai gerak-gerak pencak silat. Gerak-gerak pencak ini diambil dari aliran cimande, serah, sabandar.
Sekaitan dengan itu dilihat dari perkembangannya, gerakan pencak pada cerita topeng ini lebih mengandung nilai-nilai hiburan dan pendidikan, tapi juga dibawakan dengan gaya humor yang memikat. Terutama pada Ibing Pencak  sebelum membawakan lakon cerita bersifat roman yang dapat menghibur penonton.  Kedudukan ibing pencak pada Topeng ini dapat dikatakan sebagai tarian yang senantiasa harus disajikan pada setiap pergelarannya. Ibing pencak ini dimakasudkan untuk bubuka atau  untuk mengantarkan peran (tokoh) pada setiap pelaku dalam cerita yang dibawakan. Pada intinya ibing pencak ini gerakannya digunakan atau dijadikan pijakan bagi para tokoh hitam dan putih sebagai penggambaran yang jahat dan yang baik. Mengamati perkembangan zaman tentang  keunikan-keunikan yang terdapat pada pertunjukan topeng pendul terutama pada ibing pencaknya pada aliran-aliran  tersebut tidak memiliki pakem pakem yang sama karena sudah dikembangkan, terlihat dari aliran cimande mesikipun mengacu  pada aliran tersebut  bahwa  lakon yang dibawakan  lebih kepada gerak pencak silat raehan karena sudah mengalami perkembangan dari sumber.







Nama : Tiara Amelia
NIM : 18123100
Sumber : Agus Sukmana, 1993, Skripsi Topeng Banjet Suatu tinjauan Unsur Musikal,  STI Surakarta.
Abdul Aizidkk, 1989, Skripsi Topeng Banjet Karawang, ASTI Bandung.


Jumat, 17 Mei 2019

Kesenian Surak Ibra

SURAK IBRA : KASENIAN KHAS CINUNUK GARUT


Surak Ibra adalah kesenian yang berasal dari Kampung Sindangsari, Desa Cinunuk, Kecamatan Wanaraja, Kabupaten Garut serta di Kabupaten Tasikmalaya. Kesenian Surak Ibra juga sering kali disebut dengan Seni Boboyongan.
Sejarah Surak Ibra
Surak Ibra bermula dari seorang tokoh silat yang bernama Ibra. Ia adalah pesilat legendaris yang hidup pada awal abad ke-19 di Kampung Cipanas, Desa Wanakerta, Kecamatan Cibatu, Kabupaten Garut. Apabila sedang menampilkan keahliannya, setiap gerakan yang dilakukan oleh Ibra selalu disertai dengan lawakan. Pada saat itulah Ibra terkenal dan dikagumi oleh masyarakat. Pengikutnya semakin bertambah banyak. Karena Ibra sangat menyukai guyonan, maka para pengikutnya yang banyak itu mempunyai kebiasaan mengolok-olok dan mengajaknya guyonan dengan mengejar-ngejar beliau. Kejadian ini hampir sama dengan permainan kucing-kucingan dan setelah dikejar beramai-ramai sambil yang mengejarnya bersorak-sorai, akhirnya Ibra tertangkap.
Kebiasaan ini menjadi hiburan bagi Ibra dan pengikutnya. Setelah itu menjadi terkenal serta melambangkan suatu bentuk kesenian yaitu kesenian boboyongan, tetapi kemudian masyarakat lebih sering menyebutnya Surak Ibra. Surak artinya Sorak-sorai, dan Ibra diambil dari nama perintisnya yaitu Bapak Ibra. Setelah Bapak Ibra meninggal dunia, kesenian ini dilanjutkan oleh putranya yang bernama Eson, mengembangkan seni boboyongan ini dan menyebutnya Surak Eson, tetapi setelah Bapak Eson meninggal, masyarakat kembali mengenalnya dengan Surak Ibra sebagai seni luhung peninggalan Kasepuhan Cinunuk, Garut. Sejak tahun 1910, Kasepuhan Cinunuk, yaitu Raden Djadjadiwangsa, mengorganisir kesenian ini dibawah Himpunan Dalem Emas. Namun Himpunan tersebut dibubarkan karena surak ibra dianggap sebuah kesenian milik negara bukan milik suatu organisasi atau perkumpulan dan pengelolaannya pun dilanjutkan oleh aparat desa hingga sekarang.
Pada masa lalu, surak ibra dipertunjukkan pada pesta-pesta Raja di Garut, Dimana para (Bupati) mengadakan hajatan, namun seiring dengan perkembangannya, surak ibra banyak ditampilkan pada hari-hari besar, seperti hari Kemerdekaan Republik Indonesia.

Pertunjukan Surak Ibra
Penyajian surak ibra yaitu dimulai dengan munculnya sejumlah pemuda berpakaian silat berwarna hitam dan membawa obor dengan formasi bebanjar sambil menggerakkan gerakan silat. Kemudian, disusul oleh rombongan penari surak ibra sekitar 30-60 orang atau bahkan hingga ratusan orang yang memakai kostum pesilat berwarna kuning merah dan warna lainnya. Rombongan ini bergerak dengan penuh semangat dan menampilkan gerakan silat juga. Kemudian atas komando pemimpin, musik pengiring ditabuh secara serempak dengan irama kendang tepak golempang. Setelah itu, mereka membuat formasi tertentu sambil memperagakan gerakan pencak silat. Formasi melingkar menutup ruang gerak orang yang akan diboyong, sehingga makin sempit, karena merapatnya barisan pemboyong. Akibatnya, orang yang diboyong hanya bisa pasrah dan tidak bisa menghindar dari barisan pemboyong. Maka ditangkaplah orang yang akan diboyong dan diangkat naik-turun , dilemparkan ke udara sambil diiringi oleh musik dan sorak sorai (eak-eakan ; bahasa sunda).
Disinilah para pemain surak ibra maupun penontonnya larut dalam kegembiraan yang memuncak. Setelah permainan dianggap cukup, pimpinan permainan akan memberhentikannya dengan aba-aba berhenti, lalu orang yang diboyong diturunkan lagi ke bawah, kemudian mereka kembali ke formasi helaran. Lama pertunjukan ini sekitar 30 menit sampai satu jam, lebih dari itu akan sukar diberhentikan, karena sepertinya mereka telah kerasukan roh halus.
Peralatan yang digunakan dalam kesnenian surak ibra ini yaitu, seperangkat kendang pencak, tarompet, kempul, ditambah seperangkat angklung I, II, III, IV. Dan ada juga yang menabuh dogdog I, II, III, IV. Serta untuk menyemarakkan pertunjukan, pergelaran ini dilengkapi dengan dua buah obor yang menyala disebut oncor.
Kesenian ini mengandung makna, diantaranya makna syukuran, karena sebagai komunitas masyarakat biasanya memiliki cara syukuran tersendiri yang diwariskan oleh perintis atau nenek moyangnya.


Nama : Alyaa Bilqiis
NIM : 18123093
Sumber materi :
  1. Atmadibrata, Enoch, dkk. Khazanah Seni Pertunjukan Jawa Barat. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata dan Yayasan Kebudayaan Jaya Loka. Bandung. 2006.
  2. Kurnia, Ganjar, dkk. Deskripsi Kesenian Jawa Barat. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Barat dan Pusat Dinamika Kebudayaan. Bandung. 2003.
Sumber  foto : 1. Dokumen pribadi milik @dedimulyadi71

Kesenian Tari Topeng Cirebon


TARI TOPENG CIREBON



Topeng cirebon adalah salah satu jenis pertunjukan tari yang menggunakan penutup muka atau kedok dengan cara mengigit bagian canggemnya atau mengikatnya di kepala dengan seutas tali (Masunah Juju dan Uus Karwati. 2003. 9). Ibarat cermin, topeng Cirebon dijadikan sebagai penggambaran atau pengingat bagi hidup manusia agar terus mencari jati diri hingga usia senja.

Tinjauan Kesejarahan Topeng Cirebon
Cirebon merupakan kota kecil bersejarah besar. Corak kebudayaannya perpaduan antara suku Jawa dan Sunda. Letak yang berada di wilayah pesisir, membuat Cirebon sangat terbuka dalam menerima pengaruh dari para pendatang.  Sejarah Cirebon terekam jelas dalam manuskrip Purwaka Caruban Nagari, yang ditulis pada saat Cirebon berada dibawah kekuasaan Pajajaran.
Kesultanan cirebon sendiri pada waktu itu di dirikan untuk penyebaran syiar Islam. Sesuai dengan amanat para wali yang berkumpul di Surabaya atau Ampel, pada waktu itu sepakat bahwa Syekh Syarif Hidayatullah atau Syekh Sunan Gunung Jati untuk mengadakan syiar Islam di Jawa bagian kulon (Barat). Ia dikenalkan metode pendekatan dengan kesenian oleh Sunan Kali Jaga. Lalu mereka bekerja sama menyebarkan syiar Islam dengan mengggunakan aktraksi gamelan, wayang orang, hingga tarian topeng. Sunan gunung jati menggunakan keraton sebagai pusat syiar Islam dan menggunakan tari topeng cirebon sebagai media utamnya.
Perkembangan Topeng Cirebon
Topeng cirebon pada masa sekarang tidak halnya berkembang di sebuah keraton saja  bahkan berkembang berbagai persi pada saat ini, ada persi losari dengan kakinya mengangkak kemudian yang meliuk badannya, persi palimanan , persi gegesik, bahkan indramayu. itu terjadi hanya perbedaan persi  pada gerakan dan susunan tariannya.
Pada abad 15 tarian yang diadaptasi ini semakin populer, penyiar islam memperkenalkan mulai dari (losari, kuningan, indramayu, dan karawang ) demgan letak wilayah yang legaliter ini mereka “menerima”(Meniru) khususnya cirebon sikap ini tercermin dari penari topeng mereka mengenakan busana dengan atribut-atribut dari orang yang bersetatus tinggi. Pengaruh pada masa kerajaan tercermin pada pemakaian atribut-atribut kerajaan berupa mahkota ataupun tutup kepala, kalung dan kace, dan pengaruh kolonial tercermin pada penggunaan dasi topi dan kacamata.
Pertunjukan Topeng Cirebon
Pertunjukan topeng cirebon dikalangan masarakat pendukungnya diselenggarakan dalam dua fungsi yang berbeda, yaitu dari sifatnya yang sakral (keagamaan) dan profan (keduniawian) kedua suasana ini dapat diwujudkan di desa maupun di kota, tergantung konteks pertunjukannya pada acara ritual atau perayaan dan keagamaan. Sementara dalam pertunjukan seni tarian topeng citebon ditampilkan sebagai sarana hiburan karena estetika.
Ada tiga macam penyelenggaraan pertunjukan topeng cirebon, yaitu komunal, individual, dan bebarang. Acara komunal merupakan hajatan desa atau kampung untuk kepentingan bersama. Komunal ini berhubungan dengan kepercayaan seperti upacara ngarot atau kasinoman (ritus muda-mudi) dan ngunjung (upacara di makam). mengadakan pertunjukan lebih dari satu kesenian arak-arakan, Individual umumnyamerupakan perayaan hajat perorangan atau keluarga, seperti untuk selametan, pernikahan khitanan, mitoni (7 bulanan). Bebarang merupakan pertunjukan kelilng atau dengan penyebutan istilah ngamen.
Karakteristik Topeng Dan Tarian
Dalam pertunjukan taopeng cirebon tarian topeng terdapat lima wanda yaitu (topeng panji , topeng pamindo/samba, topeng rumyang, topeng tumenggung dan topeng klana ). Penamaan seorang dalang sendiri ada terdapat pada kesenian topeng juga yaitu orang yang memainkan dari salah satu ataupun dari lima wanda kedok itu di sebut dengan istilah dalang.
1.Topeng Panji
Topeng panji ini berkarakter halus, gerak tariannya senantiasa kecil dan lembut langkahnya minialis menggambarkan kesucian seorang manusia yang baru lahir. Ia di biarkan alami sanggian matanya disebut “wiji bonteng” ( biji ketimun ) dan tatapannya lenyep, pandangannya merunduk dan senyumannya di kulun raut wajahnya menunjukan seorang yang alim.
2.Topeng Pamindo Atau Samba
Topeng pemindo di tarikan  pada kesempatan kedua, warna kedoknya putih dengan hiasan melingkar di atas dahinya,  matanya layup hidungnya sedikit mendongkak dan mulutnya sedikit menganga, seperti orang tertawa terkehkeh kedok tarian ini berkarakter genit atau lincah. Dan dengan penyebutan orang cirebon (Ganjen), gerakan gesit menggambarkan seorang yang tengah beranjak remaja periang serta penuh suka cita.
3. Topeng Rumyang
Rumyang adalah penengah dari puncak kehidupan disini menggambarkan sifat  labil dan bisa di gambarkan dengar tata geraknya lembut ,ceria tetapi juga menari dengan tegas. Gerakan tersebut cerminan sifat topeng yang masi labil dan masi mencari baik atau buruknya dari suatu kehidupan.
4.Topeng Tumenggung
Topeng tumenggung wandanya menyiratkan seorang yang berani dan berwibawa, pandangan matanya agak melotot, berkumis dan berjambang. Tariannya berkarakter gagah dengan gerak-geraknya tegas sebagai gambaran orang-orang yang tegas dan mempunyai kekuasaan
5.Topeng Klana
Topeng klana umumnya di cat dengan warna merah tua,  kedok ini berkarakrer kasar, matanya membelak, berkumis tebal serta berjambang. Topeng klana adalah gambaran yang bertabiat buruk , serakah, penuh amarah, dan tidak bisa mengendalikan hawa napsu. sebagian dari gerak tariannya menggambarkan seorang yang tengah marah mabuk teertawa terbahak-bahak dan menggambarkan seseorang yang tengah gandrung.
    
Penulis           : Dodi Iskandar
Nim                : 18123106
Sumber          :-Suanda Amsar Toto. 2009. Tari Topeng Cirebon Bahan Ajar. STSI Bandung
                        -Masunah Juju. 2003. Uus karwati. Topeng Cirebon. UPI Bandung
Sumber Foto :-tokopedia.com

                         -radarcirebon.com

Rabu, 08 Mei 2019

Kesenian Bajidoran

Kesenian Bajidoran

Mengamati pertunjukan Bajidor yang hidup dan berkembang di masyarakat Karawang, maka di duga pertunjukan tersebut merupakan trasformasi dari pertunjukan Ketuk Tilu. Unsur-unsur yang esensial pada Ketuk Tilu masih tampak dalam pertunjukan hiburan pribadi serta dari lagu-lagu dan tarian yang digunakan. Perubahan ketuk tilu menjadi perubahan bajidoran melalui proses yang bergulir sejalan dengan perkembangan zaman.
Faktor yang melandasi perubahan adalah adanya kemampuan manusia dalam berbagai bidang, terutama kemajuan pikiran, teknologi, etika, dan politik yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan perubahan juga tidak terlepas dari pemerintah dengan maksud membenahi kesenian agar terhindar dari tingkah laku negatif terutama kontak fisik yang dilakukan antara pria dan wanita.

Kemunculan Bajidor
            Tanda-tanda kemunculan bajidor di duga muncul pada tahun 1950 an, di awali dengan maraknya pertunjukan wayang golek yang disertai tari-tarian. Pada saat itu pertunjukan wayang golek sangat di gandrungi masyarakat, dan pertunjukannya sering di embel-embeli dari para penonton, sudah menjadi kebiasaan pada pertunjukan wayang golek selalu di sajikan lagu-lagu sebagai selingan dari lakon yang di bawakan dalang. Dengan banyaknya permintaan lagu dari penonton sehingga mengganggu lakon yang di bawakan oleh dalang maka di berikanlah waktu pada acara setelah pagelaran wayang di sambung dengan acaara hiburan bajidoran hingga menjelang fajar. Bajidor adalah sebutan bagi orang yang suka Bajidoran, dalam arti mereka yang aktif dan ikut terjun di dalamnya.
Diperkirakan kemunculan kata bajidor muncul dari kependekan banjet, tanji, dan bodor (karena di dalamnya bajidor terdapat lawakan). Dan ada istilah lain yang mengatakan bahwa bajidor adalah (barisan jiwa doraka) mengapa demikian karena watak dari seorang bajidor mencerminkan sikap negatif. Awal kemuncul bajidor di duga di pelopori oleh mantan penari laki-laki atau para penggemar ketuk tilu yang dahulu di kenal sebagai istilah pamogaran. Lama- kelamaan istilah pamogaran menghilang seiring dengan minat masyarakat Karawang terhadap Seni Ketuk Tilu. Kemudian muncul Bajidoran yang memiliki kesamaan dalam beberapa hal dengan Ketuk Tilu, terutama lagu-lagu maupun pola gerak yang di gunakan adalah pola ketuk tilu-an.

Pertunjukan bajidor
Perbedaan yang cukup menonjol muncul antara ketuk tilu dan bajidor adalah jarak antara sinden dengan bajidor. Dalam ketuk tilu, ronggeng, dan pamogaran keduanya menari bersama, sedangkan dalam bajidoran keduanya berbeda dengan tempat yang terpisah. Bajidor merupakan sajian yang penuh dengan nuansa erotik. Bila berada dalam arena bajidor seakan akan berada dalam diskotik tebuka, penuh kehangatan, kegairahan, kehingar- bingahan, disertai aroma minuman beralkohol, dan tiupan angin malam.
Bajidor di pentaskan dalam acara pesta perkawinan, khitanan, dan perayaan hari-hari besar seperti ulang tahun kemerdekaan atau hari jadi suatu daerah, karena disamping memiliki makna ritual juga dianggap sebagai aset bisnis. Bajidor merupakan sebuah bentuk pertunjukan rakyat yang terbentuk, hidup, tumbuh, dan berkembang ditengah masyarakat pedesaan, oleh sebab itu bentuk sajian bersifat sederhana. Namun demikian dari keserderhanaan itu muncul daya tarik yang luar bisa. Bajidor memiliki karisma tertentu, di takuti, bahkan dihormati. Hal ini disebabkan dahulu para bajidor itu dianggap sebagai jago-jago silat dan berduit.
Musik pengiring bajidor terdiri dari seperangkat gamelan salendro. Sementara gerak-gerik yang  di ungkapkan oleh penari adalah ungkapan bebas sesuai dengan keinginan dan kemampuan pelaku. Namun yang terpenting adalah sesuai lagu dan tepakan kendangnya. Anggota pertunjukannya terdiri dari sekelompok sinden yang umumnya dapat menari dan menyanyi, kelompok penabuh gamelan, dan kelompok bajidor atau penggemar dari seni bajidor, baik yang bisa menari atau tidak. Sinden yang berperan sebagai penari dan penyanyi ini, kemungkinan besar merupakan trasformasi dari ronggeng dalam seni ketuk tilu.

Perkembangan Bajidor
Bajidor dalam perkembangannya lebih dikenal sebutan kiliningan atau kiliningan bajidoran, selanjutnya setelah masuk pengaruh jaipongan dari daerah bandung muncul istilah baru yaitu kiliningan-jaipongan, atau jaipongan saja. Mungkin masyarakat mengagap bahwa seni jaipong lebih populer di Jawa Barat, dan pelaku seninya lebih bangga jika menyebut kelompoknya dengan grup jaipongan.
Sisi-sisi positif dalan arena bajidor adalah sebagai ajang bertemannya rakyat, ajang bertemuannya gaya, ajang transaksi ekonomi/bisnis, ajang silaturahmi, ajang hiburan, sehingga terjadi interaksi antara mereka. Namun dari sisi negatif, disadari atau tidak, arena bajidor menjadi sebuah          arena persaingan status, persaingan multi lapis.

https://www.google.com/url?sa=i&rct=j&q=&esrc=s&source=images&cd=&ved=&url=https%3A%2F%2Fwww.ayobandung.com%2Fread%2F2018%2F11%2F29%2F41128%2Fmenelisik-sejarah-kesenian-bajidoran&psig=AOvVaw2rldIdKdhXvbidYTS6BmTz&ust=1557474195961511





Penulis           : Dodi Iskandar
Nim                : 18123106
Sumber      : Herdiani, Een. 2003. Bajidoran di Karawang Kontuitas dan Perubahan. Bandung.

Kesenian Kuda Renggong

Kesenian Kuda Renggong

http://renggongsumedang13.blogspot.com/2016/05/sejarah-kuda-renggong.html

Kuda renggong adalah kesenian Jawa Barat yang tentu menampilkan kuda seperti nama nya. Kesenian yang menampilkan 1-4 ekor kuda yang dapat menari mengikuti iringan musik. Penamaan Ruda Renggong ini berasal dari kata "renggong" yang berarti gerakan tari berirama dengan ayunan (langkah kaki) yang diikuti oleh gerakan kepala dan leher. Dan simpel saja nama itu di gabung dengan kuda menjadi Kuda renggong.
Kuda Renggong, atau yang dahulu biasa disebut kuda igel karena bisa ngigel (menari) ini konon tumbuh berkembang di kalangan masyarakat Desa Cikurubuk, Kecamatan Buah Dua, Kabupaten Sumedang.
Kala itu, sekitar tahun 1880-an. Ada seorang laki-laki bernama Sipan yang penasaran dengan kuda peliharaannya, dia selalu mengamati kuda miliknya dan berfikir bahwa kuda itu bisa di latih layaknya seperti hewan peliharaan lainnya. Dia pun mulai melatih kudanya dengan iringan musik dan gerakan-gerakan seperti lari melintang (adean), gerak lari kepinggir seperti ayam yang sedang birahi (beger), gerak langkah pendek namun cepat (torolong), dan masih banyak gerakan yang lainnya.  Latihan dilakukan selama tiga bulan berturut-turut hingga kuda tersebut menjadi terbiasa   dan setiap mendengar musik ia akan menari dengan sendirinya.
Melihat keberhasilan Sipan dalam melatih kuda-kudanya “ngarenggong’’ membuat pangeran Aria Surya Atmadja yang waktu itu menjabat sebagai Bupati Sumedang menjadi tertarik dan memerintahkan nya untuk melatih kuda-kuda miliknya. Dan inilah akhirnya Sipan dikenal sebagai pencipta kesenian Kuda Renggong.
Pertunjukan Kuda Renggong sering sekali ada di acara-acara khitanan, pertunjukan ini diawali dengan sambutan panitia,  setelah itu barulah anak yang telah dikhitan atau tokoh masyarakat yang akan di arak dipersilahkan untuk menaiki kuda renggong. Selanjutnya, alat pengiring ditabuh dengan membawakan lagu Kembang Gadung dan Kembang Beureum yang berirama dinamis sebagai tanda dimulainya pertunjukan.
Setelah anak yang akan diarak siap, maka sang pemimpin (pelatuk) akan mulai memberikan aba-aba agar pemain silat (pengatik) dan sang kuda mulai melakukan gerakan-gerakan tarian secara serempak dan bersamaan. Tarian yang biasa dimainkan oleh pesilat bersama kuda renggong tersebut adalah tarian “perkelahian” yang terjadi diantara mereka, yang diantaranya adalah: gerakan kuda berdiri di atas kedua kaki belakangnya. Sementara kaki depan bergerak seperti mencakar pesilat, gerakan-gerakan yang seolah-olah menginjak perut pesilat, gerakan menginjak kepala pesilat menggunakan kaki depan, dan gerakan-gerakan pesilat saat beraksi di sekitar punggung kuda. Sebagai catatan, gerakan-gerakan yang dilakukan oleh sang kuda tidak begitu tinggi karena di atas punggungnya terdapat anak yang dikhitan atau pejabat yang menungganginya.
Para pemain kuda renggong umumnya adalah laki-laki dewasa yang tergabung dalam sebuah kelompok yang terdiri atas: seorang pemimpin kelompok (pelatuk), beberapa orang pemain waditra, dan satu atau dua orang pemain silat. Para pemain ini adalah orang-orang yang mempunyai keterampilan khusus, baik dalam menari maupun memainkan waditra. Keterampilan khusus itu perlu dimiliki oleh setiap pemain karena dalam sebuah pertunjukan kuda renggong yang bersifat kolektif diperlukan suatu tim yang solid agar semua gerak tari yang dimainkan dapat selaras dengan musik yang dimainkan oleh para pemain waditra.
Seperangkat waditra untuk memainkan Kuda Renggong terdiri dari: dua buah kendang besar (kendang indung dan kendang anak), sebuah terompet, dua ancak ketuk (bonang), sebuah bajidor, dua buah gong (besar dan kecil), satu set kecrek, genjring, dan terbang atau dulang; dan (3) busana pemain kuda renggong yang dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu busana juru pengrawit (wiyaga) dan busana pemain silat (pengatik). Busana juru pengrawit terdiri dari: baju seragam biru lengan panjang dan berstrip putih, celana panjang, tutup kepala iket loher, dan sandal. Sedangkan busana pemain silat terdiri dari: celana pangsi berwarna hitam, tutup kepala iket loher, dan ikat pinggang kain berwarna merah.
            Lagu-lagu yang dimainkan oleh para wiyaga untuk mengiringi tarian biasanya diambil dari kesenian Jaipong, Ketuk Tilu, dan Joged seperti: Paris Wado, Rayak-rayak, Botol Kecap, Keringan, Kidung, Titipatipa, Gondang, Kasreng, Gurudugan, MapayRoko, Kembang gadung, Kangsring, Buah Kawung, Gondang, Tenggong Petit, Sesenggehan, Badudud, Tunggul Kawing, Samping Butut, Sireum Beureum, Manuk Dadali, dan masih banyak yang lainnya.
            Pertunjukan kuda renggong ini dilakukan sambil mengelilingi kampung atau desa, hingga akhirnya kembali lagi ke tempat semula. Setelah itu, diadakan acara saweran yang didahului oleh pembacaan doa yang dipimpin oleh juru sawer (ahli nyawer) dengan menggunakan sesajen yang berupa: nasi tumpeng (congot), panggang daging, panggang ayam (bakakak), sebuah tempurung kelapa yang berisi beras satu liter, irisan kunyit, dan kembang gula. Dan, setelah acara saweran yang dilakukan dengan menaburkan uang logam dan beras putih, maka pertunjukan pun berakhir.
            Pada perkembanganya saat ini Kuda Renggong sudah tak lazim lagi dikalangan masyarakat Jawa Barat dan Sunda, kesenian ini juga tak hanya di Sumedang, namun banyak juga di daerah seperti Purwakarta, Subang, dan banyak pula di daerah lain.
            Banyak nya kesenian  di Indonesia yang membuat kita lebih penasaran lagi akan Negara Indonesia. Maka dari itu lah, kita sebagai generasi penerus bangsa harus bangga dan harus terus mempertahankan kesenian-kesenian yang ada di Indonesia. 

https://www.google.com/url?sa=i&rct=j&q=&esrc=s&source=images&cd=&ved=2ahUKEwiKqf_c_I3iAhWi_XMBHUnhB8oQjxx6BAgBEAI&url=https%3A%2F%2Fbudayajawa.id%2Fkesenian-kuda-renggong-dan-maknanya%2F&psig=AOvVaw1LDXDGvhJnlVh1GJCvbTWd&ust=1557474830541333

Penulis           : Ahmad Putra Winengku (Uta)
Nim                : 18123095
Jurusan          : Seni Karawitan
Sumber          : Sariyun, Yugo, dkk,. 1992. Nilai Budaya Dalam Permainan Rakyat Jawa   Barat. Bandung.